Opini

Kearifan Lokal dalam Semangat Kebangkitan Nasional Abad XXI

Bagus Yudha | Selasa, 21 Mei 2013 - 21:03:13 WIB | dibaca: 1002 pembaca

Oleh: I Putu Arik Budiarsana, Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, UNDIKSHA.

 

Belakangan ini, kasus ketegangan antar kelompok suku, agama dan ras benar-benar mencoreng kemajemukan bangsa yang sudah diakui dahulu oleh para pendiri bangsa ini. Beberapa kasus seperti bentrokan warga Lampung dengan warga pendatang dan begitu juga penyerangan dan penjarahan sepihak oleh warga Sumbawa terhadap warga pendatang, juga tidak bisa diabaikan beberapa usaha memerdekakan diri dari bagian Negara Kesatuan Republik Indonesia, menunjukkan bahwa keberagaman bangsa ini sedang terancam. Semangat kebangkitan nasional yang membawa kemerdekaan bangsa ini sedang memudar dalam impit sesak era teknologi dan informasi yang semakin kokoh.

         Seperti yang kita ketahui, kebangkitan nasional merupakan tonggak awal kesadaran akan persatuan dan kesatuan serta tumbuhnya rasa nasionalisme dalam upaya pembebasan bangsa dari genggaman penjajah. Pada masa itu, diawali oleh organisasi Budi Utomo, seluruh komponen bangsa secara bertahap mengumandangkan persatuan dan kesatuan serta nasionalime sampai pada tercapainya kesepakatan satu bangsa, satu tanah air dan satu bahasa dalam Sumpah Pemuda di tahun 1928. Persatuan dan kesatuan inilah yang akhirnya mampu membebaskan bangsa kita dari penjajahan dengan dideklarasikannya proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.

            Masa sesudah kemerdekaan adalah usaha-usaha mempertahankan dan mengisi kemerdekaan. Pada masa ini semangat kebangkitan nasional bangsa Indonesia sering mendapat ujian. Beberapa permasalahan seperti contohnya Gerakan PKI dapat di lawan dengan semangat persatuan dan kesatuan serta nasionalisme dari seluruh masyarakat Indonesia. Sampai pada saat ini, masa yang disebut sebagai jaman globalisasi atau abad XXI. Secara teori, globalisasi mestinya mampu memperkuat semangat kebangkitan nasional bangsa Indonesia. Dengan kemajuan teknologi dan informasi, globalisasi telah membuat dunia tanpa batas. Pertukaran informasi terfasilitasi dengan cepat dan mudah. Hal ini tentunya menguntungkan sekali bagi perkembangan persatuan bangsa yang terpisah dalam beribu-ribu pulau. Akan tetapi melihat kasus-kasus yang terjadi belakangan ini, seperti yang telah disebutkan di atas, globalisasi justru menjadi salah satu penyebab terjadinya kasus-kasus tersebut. Ambil contoh, kasus bentrokan antar kelompok suku, agama dan ras yang terjadi di Lampung, berdasarkan laporan Okezone.com, salah satu penyebab bentrokan adalah tersebarnya informasi yang belum benar melalui pesan singkat antar telepon genggam dan juga melalui media sosial berbasis internet.

          Lalu apa yang bisa membantu menumbuh kembangkan semangat persatuan dan kesatuan serta nasionalisme masyarakat Indonesia? Salah satunya adalah melalui rekontruksi nilai-nilai kearifan lokal yang terdapat di Indonesia, yang sepertinya juga telah terkikis proses homogenisasi yang dibawa oleh arus globalisasi. Seperti kita ketahui, kearfian lokal adalah semua bentuk pengetahuan, keyakinan, pemahaman atau wawasan, serta adat istiadat atau etika yang menuntun kehidupan manusia yang baik di dalam komunitasnya. Oleh karena Indonesia merupakan bangsa multikultural, maka dapat dijumpai beragam kearifan lokal dari Sabang sampai Merauke. Setiap masyarakat mempercayai dan menjalankan kearifan lokalnya. Beranekaragamnya kearifan lokal yang terdapat di Indonesia hendaknya tidak dijadikan sebagai permasalahan mengingat semboyan Pancasila yaitu berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Di dasar perbedaan ini sebenarnya terdapat beberapa persamaan yang saling terkait. Sebut saja nilai-nilai gotong royong, toleransi, tepo seliro, dan sebagainya. Setiap daerah di Indonesia pastinya memiliki nilai-nilai ini. Dalam kaitannya dengan kebangkitan nasional, kearifan lokal yang terdapat di Indonesia merupakan salah satu solusi untuk permasalahan-permasalahan yang terdapat di Indonesia belakangan ini.

         Seperti yang dijelaskan di atas, kearifan lokal mampu mengikat masyarakatnya dalam sebuah tatanan yang sedimikian rupa sehingga terjailnnya secara erat hubungan antara satu individu dengan individu lainnya. Hal ini tentunya sangat mendukung tumbuhnya semangat persatuan, kesatuan dan nasionalisme seperti yang pernah di awali beberapa puluh tahun yang lalu. Contoh kearifan lokal seperti gotong royong telah membuat tatanan masyarakat yang tergantung satu dengan yang lainnya. Jika dikaitkan dengan masa setelah kemerdekaan, nilai gotong royong sangat berguna dalam pembangunan nasional menuju kesejahteraan bangsa seperti tujuan dari tumbuhnya kebangkitan nasional. Contoh kearifan lokal yang lain adalah adat musyawarah mufakat. Musyawarah mufakat juga telah membentuk tatanan masyarakat yang menghormati keputusan bersama atas suatu permasalahan yang mucul. Rekontruksi nilai-nilai musyawarah mufakat tentunya akan menghindari kasus-kasus main adil sendiri seperti contoh yang disebtukan di atas.

            Selain itu, kearifan lokal juga bisa menjadi sebuah alat preventif yang sangat kuat untuk menyaring nilai-nilai yang dibawa dari luar sebagai dampak globalisasi. Kearifan lokal bisa memperkuat jadi diri bangsa dan mencegah masuknya nilai-nilai yang bertentangan dengan kearifan-keraifan yang berlaku di masyarakat setempat, khususnya kearifan lokal yang mendukung kebangkitan nasional. Sebagai contoh, nilai individualis dan kapitalis yang di bawa arus globalisasi sangat tidak sesuai dengan semangat kebangkitan nasional dan kearifan lokal bangsa Indonesia. Begitu juga sebaliknya nilai-nilai yang mendukung semangat kebangkitan nasional dapat disaring masuk sebagai penguat kearifan lokal yang sudah ada. Sebagai contoh, nasionalisme masyarakat barat yang sangat tinggi dapat kita adopsi untuk memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa kita.

            Selain itu juga, kearifan lokal dapat dijadikan sebagai acuan langkah masyarakat untuk mewujudkan kerukunan antar suku, agama dan ras di Indonesia. Nilai toleransi (salah satu kearifan lokal Indonesia) yang sangat melekat dalam jati diri bangsa indonesia merupakan salah satu penyebab terwujudnya kerukunan antar suku, agama, dan ras di Indonesia terlepas dari beberapa konflik-konflik yang terjadi. Contohnya nilai kearifan lokal lainnya yaitu kearifan lokal Bali, salunglung sabayantaka, paras paros sarpanaya yang mengajarkan masyarakat akan perlunya kebersamaan dan kerjasama yang setara antara satu dengan yang lainnya sebagai satu kesatuan sosial yang saling menghargai dan menghormati. Menghayati dan melakukan nilai-nilai dalam kearifan lokal ini tentu akan sangat berguna bagi kerukunan umat beragama di Indonesia abad sekarang ini. Ini pula akan sangat mengokohkan persatuan dan kesatuan serta nasionalisme masyarakat Indonesia dalam mengisi dan mempertahankan kemerdakaan Indoneisa.

          Lalu dalam kondisi seperti sekarang ini, apakah kesadaran akan kearifan lokal sudah memasyarakat? Saya rasa belum. Atau tepatnya memudar dari generasi ke generasi Balik lagi ke konflik-konflik yang terjadi belakangan ini, itu menunjukkan bahwa masyarakat semakin kurang sadar akan kearifan lokal bangsa Indonesia. Oleh karena itu, seluruh masyarakat masyarakat harus mau merawat dan menjaga kearifan lokal masing-masing daerah. Mengkomunikasikan di dalam keluarga, mengintegrasikannya ke pendidikan di sekolah maupun informal, serta memberi contoh penerapannya didalam masyarakat akan sangat berguna untuk merawat dan menjaga kearifan-kearifan lokal. Sehingga semangat persatuan dan kesatuan serta nasionalisme dalam mewujudkan semangat kebangkitan nasional di masa mengisi kemerdekaan ini dapat diwujudkan.

*Tulisan ini mendapat juara 3 dalam Lomba Penulisan Opini tk. Mahasiswa se-Bali.

 










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)