Resensi

“The Invention of Hugo Cabret”

Bagus Yudha | Jumat, 19 April 2013 - 20:37:57 WIB | dibaca: 591 pembaca

Hugo bisa dikatakan sebagai film bergenre keluarga pertama yang dibuat oleh sutradara ternama Martin Scorsese. Kesuksesan Martin Scorsese menyutradarai film yang kisahnya diangkat dari novel anak-anak yang berjudul The Invention of Hugo Cabret ini terbukti dengan diraihnya 11 nominasi sutradara terbaik dan film terbaik dalam Oscar. Berlatar tahun 1931, film ini mengisahkan petualangan seorang anak yatim-piatu bernama Hugo (Asa Butterfield) dalam memecahkan misteri sebuah robot.

Hugo yang kehilangan ayahnya (Jude Law) dalam sebuah kebakaran harus tinggal bersama pamannya (Ray Winstone) di sebuah menara jam stasiun Gare Montparsanne di kota Paris, Perancis. Paman yang mengajarinya mengurus dan menyetel jam menara pun hilang entah kemana dan akhirnya ditemukan meninggal. Bocah berusia 12 tahun itu menjadi sebatang kara sehingga hidup berkeliaran di stasiun dan seringkali mencuri barang-barang termasuk makanan.

Sebelum meninggal, ayah Hugo meninggalkan sebuah catatan yang berisi seluk beluk komponen robot yang bisa menulis. Ia berambisi melanjutkan proyek ayahnya memperbaiki sebuah robot bernama automaton. Berbekal catatan itu, ia berusaha keras memperbaiki automaton karena merasa robot itu dapat memberikan sebuah petunjuk.

Pengetahuannya tentang mesin jam mampu membantunya memperbaiki robot rusak itu. Namun hal itu tidak berjalan lancar sebab  terdapat komponen-komponen yang hilang dalam robot tersebut termasuk kunci berbentuk hati. Untuk mendapatkan komponen-komponen yang hilang itu, ia mencuri di sebuah toko mainan milik Georges (Ben Kingsley). Tentu saja ia harus menghindari sang penjaga stasiun bernama Gustav (Sacha Baron Cohen) yang mengincar anak-anak yatim-piatu, agar tidak tertangkap dan diserahkan ke panti asuhan.

Suatu hari Georges menangkap basah Hugo yang hendak mencuri sebuah mainan di tokonya. Georges pun menagih barang-barang curian Hugo lainnya serta merampas buku catatan peninggalan ayah Hugo. Betapa kagetnya Georges ketika mengetahui isi buku tersebut dan menyitanya dari tangan Hugo. Berusaha mendapatkan kembali buku catatannya, Hugo bertemu dengan gadis bernama Isabelle (Chloë Grace Moretz) yang adalah anak baptis Georges. Mereka berteman baik dan petualangan pun dimulai saat ternyata Isabelle mau membantu Hugo memecahkan misteri automaton dengan kunci hati yang dimiliki Isabelle. Hingga akhirnya automaton dapat bekerja kembali dan terkuaklah jati diri sebenarnya para tokoh.

Selain menyuguhkan efek visual yang  memukau, Martin Scorsese menampilkan sejarah perfilman yang menjadi kejutan dan daya tarik dalam film ini. Akting pemainnya juga memuaskan Film petualangan 3D berdurasi 127 menit ini akan membuat siapapun yang menyaksikannya terkesan baik karena alur ceritanya maupun efek visualnya.










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)